Hanya di surga kita akan dapat memahami betapa Misa Kudus adalah suatu ketakjuban ilahi. Tak peduli betapa keras kita telah berupaya dan tak peduli betapa kudus dan terinspirasinya kita, kita tidak dapat tidak takjub akan karya ilahi ini yang melampaui manusia dan malaikat.

Suatu hari seorang berkata kepada Padre Pio dari Pietrelcina, “Pater, tolong jelaskan Misa Kudus kepada kami.” “Anak-anakku,” jawab Padre Pio, “bagaimanakah aku dapat menjelaskannya kepada kalian? Misa itu tak terbatas seperti Yesus … bertanyalah kepada malaikat apa itu Misa dan ia akan menjawab kalian dalam kebenaran, `Aku mengerti apa itu Misa dan mengapa Misa dipersembahkan, tetapi, aku tidak dapat memahami betapa dahsyat nilainya.’ Satu malaikat, seribu malaikat, segenap surga, tahu akan hal ini dan berpikir seperti ini.”

St. Alfonsus de Liguori menegaskan, “Tuhan Sendiri tidak dapat mengadakan suatu tindakan yang lebih kudus dan lebih agung dari perayaan satu Misa Kudus.” Mengapa? Sebab Misa Kudus adalah, dapat kita katakan, suatu perpaduan, sebab Misa Kudus dapat dikatakan adalah gabungan dari Inkarnasi dan Penebusan, dan mencakup Kelahiran, Sengsara dan Wafat Yesus, misteri-misteri yang Tuhan genapi demi kepentingan kita. Konsili Vatican Kedua mengajarkan, “Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan kurban Ekaristi tubuh dan darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabadikan kurban salib untuk selamanya” (Sacrosanctum Concilium, Konstitusi tentang Liturgi Suci, #47). St Thomas Aquinas, dalam suatu bagian yang mencerahkan pikiran, menulis, “Perayaan Misa Kudus sama nilainya dengan wafat Yesus di salib.”

Sebab itulah St Fransiskus dari Assisi mengatakan, “Hendaknya manusia gentar, dunia bergoncang, segenap surga gemetar ketika Putra Allah hadir di altar dalam tangan imam.”

Sungguh, sebab ia memperbaharui Kurban Sengsara dan Wafat Yesus, Misa Kudus, bahkan satu saja, cukup dahsyat untuk menahan keadilan ilahi. St Theresia dari Yesus mengatakan kepada para biarawatinya, “Tanpa Misa Kudus, apa jadinya kita? Semua di bawah sini akan binasa, sebab Misa Kudus saja yang dapat menahan lengan Allah.” Tanpa Misa Kudus Gereja pastilah tidak akan bertahan dan dunia akan sesat tanpa daya. “Akan lebih mudah dunia bertahan tanpa matahari daripada dunia tanpa Misa Kudus,” kata Padre Pio dari Pietrelcina. Ia mengikuti St Leonard dari Port Maurice yang mengatakan, “Aku percaya bahwa andai tidak ada Misa, dunia pastilah sekarang telah tenggelam ke dalam jurang di bawah beban kejahatannya. Misa adalah penopang dahsyat yang menahannya.”

Sungguh mengagumkan dampak penyelamatan yang dihasilkan setiap Kurban Misa terhadap jiwa-jiwa mereka yang ikut ambil bagian di dalamnya. Misa mendatangkan tobat dan pengampunan dosa; Misa mengurangi siksa dosa sementara; Misa memperlemah pengaruh setan dan hasrat tak terkendali daging kita; Misa memperkuat ikatan persatuan kita dalam Tubuh Kristus; Misa melindungi kita dari marabahaya dan malapetaka; Misa mempersingkat masa tinggal di purgatorium; Misa mendatangkan bagi kita tingkat kemuliaan yang lebih tinggi di surga. “Tak ada lidah manusia,” kata St Laurentius Yustinianus, “yang dapat menyebutkan satu per satu rahmat yang diperoleh dari Kurban Misa. Pendosa didamaikan kembali dengan Tuhan; orang benar menjadi lebih saleh; dosa-dosa dihapuskan; kejahatan-kejahatan disingkirkan; keutamaan dan ganjaran berkembang sementara rancangan-rancangan setan digagalkan.”

Dan juga St Leonardus dari Port Maurice tak kenal lelah mendesak orang banyak yang mendengarkannya, “Wahai kalian orang-orang yang teperdaya, apakah yang kalian lakukan? Mengapakah kalian tidak bergegas pergi ke gereja untuk mendengarkan sebanyak mungkin Misa? Mengapakah kalian tidak meneladani para malaikat yang, ketika suatu Misa Kudus dirayakan, turun dalam batalion-batalion dari surga dan mengambil tempat sekeliling altar kita dalam adorasi guna menjadi perantara bagi kita?”

Jika benar bahwa kita semua membutuhkan rahmat bagi hidup ini dan bagi hidup yang akan datang, tak ada suatupun yang dapat mendatangkan rahmat dari Tuhan lebih dari Misa Kudus. St Filipus Neri biasa mengatakan, “Dengan doa kita memohon rahmat dari Tuhan; dalam Misa Kudus kita mendesak Tuhan untuk memberikannya kepada kita.” Doa yang dipanjatkan dalam Misa Kudus melibatkan keseluruhan imamat kita, baik imamat jabatan imam di altar maupun imamat umum segenap umat beriman. Dalam Misa Kudus doa kita dipersatukan dengan doa sakrat maut Yesus sementara Ia mengurbankan DiriNya Sendiri bagi kita. Dalam suatu cara yang sama, dalam Doa Syukur Agung – yang adalah inti Misa – doa kita semua juga menjadi doa Yesus, yang hadir di antara kita. Dua kenangan dalam Doa Syukur Agung Romawi di mana dikenangkan mereka yang hidup dan yang mati, merupakan saat-saat berharga bagi kita untuk memanjatkan permohonan-permohonan kita. Juga, dalam saat-saat agung ketika Yesus dalam tangan imam mengalami Sengsara dan Wafat-Nya, kita dapat memohon bagi kepentingan-kepentingan kita sendiri dan kita dapat memohon bagi mereka, baik yang hidup maupun yang mati, yang kita kasihi. Marilah kita peduli untuk mendapatkan manfaat dari Misa Kudus. Para kudus menganggapnya sebagai amat penting, dan ketika mereka mempercayakan diri mereka pada doa-doa para imam, mereka meminta imam untuk mendoakan mereka, di atas segalanya, dalam Doa Syukur Agung.

Teristimewa di saat ajal kitalah Misa yang telah kita ikuti dengan saleh akan mendatangkan penghiburan dan pengharapan terbesar bagi kita, dan satu Misa yang kita ikuti dalam hidup kita akan jauh lebih bermanfaat daripada banyak Misa yang diikuti orang-orang lain atas nama kita setelah kematian kita.

Tuhan kita mengatakan kepada St Gertrude, “Engkau dapat yakin bahwa mengenai dia yang dengan saleh ikut ambil bagian dalam Misa Kudus, Aku akan mengirimkan kepadanya para kudus-Ku untuk menghiburnya dan melindunginya di saat-saat akhir hidupnya sebanyak Misa yang diikutinya dengan khusuk.”

Betapa menghiburkan hati! Imam Kudus dari Ars mempunyai alasan mengatakan, “Andai kita tahu nilai Kurban Kudus Misa, betapa terlebih keras daya upaya kita agar dapat ikut ambil bagian di dalamnya!” Dan St Petrus Yulianus Eymard mendesak, “Ketahuilah, umat Kristiani, bahwa Misa adalah tindakan terkudus dari agama. Kalian tak dapat melakukan suatu pun untuk lebih memuliakan Tuhan dan yang juga lebih bermanfaat bagi jiwa kalian selain dari ikut ambil bagian dalam Misa dengan saleh, dan ikut ambil bagian sesering mungkin.”

Karena itulah, kita wajib memikirkan manfaatnya bagi diri kita sendiri setiap kali kita berkesempatan untuk ikut ambil bagian dalam Misa Kudus; dan agar tidak kehilangan kesempatan, hendaknyalah kita tidak pernah menahan diri karena suatu alasan, teristimewa pada hari Minggu dan hari-hari raya.

Marilah kita mengenangkan St Maria Goretti yang pergi ke Misa hari Minggu dengan berjalan kaki, menempuh jarak sejauh 15 mil pulang pergi. Patutlah kita mengenangkan Santina Campana, yang pergi ke Misa meski ia sakit demam tinggi. Renungkanlah St Maximilianus Maria Kolbe, yang tetap mempersembahkan Misa Kudus ketika kesehatannya dalam kondisi yang begitu buruk hingga salah seorang saudara dalam komunitas religius harus menopangnya di altar agar ia jangan jatuh. Dan berapa banyak kali St Padre Pio dari Pietrelcina merayakan Misa Kudus sementara tubuhnya mencucurkan darah dan terserang demam!

Dalam hidup kita sendiri sehari-hari, sepatutnyalah kita menempatkan Misa Kudus di atas segala hal lain; sebab, seperti dikatakan St Bernardus, “Kita mendapatkan lebih banyak ganjaran dengan ikut ambil bagian dengan saleh dalam satu Misa Kudus daripada membagi-bagikan segala harta milik kepada para miskin papa dan berziarah ke segenap penjuru dunia.” Dan bukan sebaliknya, sebab tak ada suatu pun di dunia yang memiliki nilai tak terhingga satu Misa Kudus.

Kita sepatutnya lebih memilih Misa Kudus daripada kesenangan belaka yang membuang-buang waktu kita dan tidak mendatangkan manfaat bagi jiwa. St Louis IX, Raja Perancis, ikut ambil bagian dalam beberapa Misa setiap hari. Seorang menteri kerajaan mengeluh, mengatakan bahwa raja dapat mempergunakan waktu itu untuk mengurus masalah-masalah kerajaan. Raja yang kudus itu menjawab, “Andai aku menghabiskan waktu dua kali lebih banyak untuk bersenang-senang, seperti berburu, tak seorang pun akan berkeberatan.”

Marilah kita bermurah hati dan dengan suka hati melakukan kurban-kurban agar tidak kehilangan manfaat yang sedemikian besar. St Agustinus mengatakan, “Setiap langkah yang diambil orang sementara ia pergi untuk mengikuti Misa Kudus dihitung oleh malaikat; dan kemudian ia akan diganjari berlimpah oleh Tuhan dalam dunia ini dan dalam keabadian.” Imam dari Ars menambahkan, “Betapa bahagianya malaikat pelindung yang menemani suatu jiwa mengikuti Misa Kudus!”


Sumber : “Jesus Our Eucharistic Love by Father Stefano Manelli, O.F.M. Conv., S.T.D.”

Diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya