Dalam Syahadat Para Rasul kita meyakini bahwa Tuhan Allah menciptakan Langit dan Bumi, yang masing-masing dilengkapi dengan segala isinya.

Langit atau Surga dihuni oleh Tuhan Allah beserta pada malaikat-Nya. Mereka adalah para sahabat Tuhan Allah. Para pemimpinnya disebut sebagai Malaikat Agung, di antaranya ada Mikhael, Gabariel, dan Rafael. Selain itu, konon, masih ada satu malaikat yang berwajah tampan, elok, dan gagah perkasa, yang oleh teman-temannya diberi nama Lucifer.

Suatu ketika, kesombongan menghinggapi Lucifer, yang merasa ingin menyamai Tuhan Allah, penciptanya. Berbagai usaha dilakukannya untuk mewujudkan keinginan dan ambisinya itu. Ia membangun kekuatan untuk melawan Tuhan Allahnya sendiri dengan kekuatan yang tidak kepalang tanggung. Lucifer bersama para malaikat pengikutnya melakukan pemberontakan besar-besaran.

Tuhan Allah memanggil Malaikat Agung Mikhael dan memerintahkannya agar membentuk pasukan balatentara surga untuk menghadapi para malaikat pemberontak yang dipimpin oleh Lucifer. Dalam pertempuran besar di Surga itu, Lucifer berhasil dikalahkan oleh balatentara surga yang dipimpin oleh Malaikat Mikhael. Lucifer dan para pengikutnya diusir dan dibuang ke bawah, ke sebuah tempat yang disebut neraka.

Pintu Surga tertutup bagi mereka untuk selama-lamanya. Kemenangan besar diraih oleh Balatentara Surga. Namun, apakah Lucifer menyerah karena kekalahan ini?

Lucifer adalah personifikasi kuasa kegelapan, kuasa jahat, iblis, meskipun pada awalnya mengandung makna positif. Dalam bahasa latin, lux-lucis berarti ‘cahaya’, dan ferre bermakna ‘membawa’. Lucifer awalnya adalah si Pembaca Cahaya, atau dikenal dengan istilah Putera Fajar, Bintang Fajar. 

Konsep tentang Lucifer ini mengalami pengayaan makna, terutama dalam karya-karya sastra Dante, penyair Italia yang hidup pada abad pertengahan. Lucifer menjadi setan, iblis, kuasa jahat dan kegelapan. Dalam alkitab versi King James, nama Lucifer dimunculkan dalam Yesaya 14:12 untuk menyebut ‘setan’, si Putera Fajar yang jatuh dari langit (surga) dan dicampakkan ke bumi.

Kita kembali ke pertanyaan, ‘menyerahkah Lucifer karena kekalahan dalam peperangan di Surga itu?’ Dalam Injil diperlihatkan bagaimana Lucifer tak pernah menyerah. Setelah gagal mencobai Yesus di padang gurun, ia mundur…dan menunggu waktu yang baik (Lk 4:13). Lucifer, si malaikat agung yang telah tercampakkan itu, beserta para pengikutnya tak pernah berhenti membujuk manusia agar bergabung bersamanya, memperbesar kekuasaan kegelapannya. 

MALAIKAT MIKHAEL

Mikhael adalah Panglima Perang Balatentara Surgawi. Namanya berarti “Siapa dapat menyamai Tuhan?”, yang mengingatkan kita pada pertempuran dahsyat balatentara surgawi melawan pemberontakan Lucifer, si raja iblis, yang berambisi ingin menyamai Tuhan Allah.

Malaikat Mikhael beberapa kali ditampilkan dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Kitab Daniel bab 10 dikisahkan bagaimana Mikhael menenangkan hati Daniel setelah Daniel memperoleh suatu penglihatan. Mikhael berjanji untuk menjadi penolongnya dalam segala hal. Dalam Kitab Daniel bab 12, Mikhael disebut sebagai “pemimpin besar yang akan mendampingi anak-anak bangsa pilihan Tuhan.” Dalam Kitab Yudas ayat 9 diceriterakan bagaimana Mikhael bertengkar dengan iblis mengenai mayat Musa. 

Dalam Kitab Wahyu bab 12, Yohanes menggambarkan pertempuran besar di surga di mana Mikhael berhasil menghalau para malaikat yang memberontak dari surga. Peranan Malaikat Mikhael dalam Kitab Wahyu ini mungkin saja menjadi sumber inspirasi kisah pertempuran di Surga antara Lucifer dan kawan-kawannya melawan balatentara surga lainnya yang dipimpin oleh Mikhael.

Gereja memohon pertolongan Santo Mikhael bagi orang-orang yang akan menghadapi ajalnya, untuk mengantar jiwa-jiwa dari api penyucian menuju Surga.

Malaikat Mikhael juga menjadi pembela kaum beriman dalam menghadapi serangan musuh-musuhnya, menjadi pembela Gereja dalam penganiayaan, godaan, dan perpecahan. Kaum beriman mengharapkan kekuatan melalui pendampingan dari Malaikat Agung Santo Mikhael melalui doa:

“Santo Mikhael, Malaikat Agung,
Belalah kami pada hari pertempuran
Jadilah pelindung kami melawan kejahatan dan jebakan si jahat.
Dengan rendah hati kami mohon kiranya Allah menghardiknya.

Dan semoga engkau, hai Panglima Balatentara Surga,
dengan kuasa Allah, mencampakkan ke dalam neraka
setan dan semua roh jahat yang berkeliaran di dunia
hendak membinasakan jiwa-jiwa. Amin.

(lihat Doa & Ibadat Harian Pekerja, Tim Penerbit OBOR, didoakan setiap hari Selasa)

MALAIKAT GABRIEL

Gabriel, yang lazim disebut juga ‘Jibrail’ berarti ‘Kekuatan Allah.’ Dalam tradisi Kristen malaikat agung ini dikenal sebagai ‘pembawa kabar gembira’ dari Tuhan kepada manusia. Peranannya sebagai pelayan dan utusan Allah sudah dikenal umat Allah semenjak masa Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Lama, peranan Malaikat Gabriel diperlihatkan oleh Nabi Daniel (Dan 8: 16-18; 9: 21-23). Sedangkan Perjanjian Baru menampilkan Gabriel sebagai “pembawa kabar gembira” dari Allah kepada Zakaria (Luk 1: 11-20) dan memuncak dalam kisah kunjungannya kepada Bunda Maria (Luk 1: 26-38).

Melalui penggambaran dalam Alkitab, kita diingatkan tentang peran penting Malaikat Agung Santo Gabriel ini sebagai utusan Allah yang menyampaikan warta keselamatan dari Allah bagi umat-Nya. Ia memberi penerangan Ilahi kepada manusia, sehingga terbukalah budi dan hati manusia untuk memahami dan meyakini kehendak Allah.

Peranannya yang begitu istimewa untuk menjadi pewarta ”kabar baik” telah membuat Gereja menghormatinya sebagai pelindung karyawan media massa, yang pestanya dirayakan setiap tanggal 29 September dalam Pesta Para Malaikat Agung.

MALAIKAT RAFAEL

Rafael berarti “Tuhan menyembuhkan”. Namanya banyak disebut dalam Kitab Tobit bab 4-12, di mana dikisahkan Rafael menyamar sebagai manusia untuk menemani seorang pemuda bernama Tobia dalam perjalanannya ke negeri Media. Malaikat Rafael juga memberikan obat kepada kepada Tobia guna menyembuhkan mata Tobit, ayahnya yang buta, serta membebaskan Sara, puteri Raguel, dari gangguan roh jahat.

Gereja memperkenalkan Malaikat Rafael karena mengikuti tradisi suci dalam Kitab Tobit, yang memperlihatkan bagaimana Rafael memperkenalkan dirinya sebagai Malaikat Tuhan, “Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaikat yang melayani di hadapan Tuhan yang mulia… (Tob 12:15-22)”.

PENUTUP 

Pesta Malaikat Agung St. Mikhael, St. Gabriel dan St. Rafael dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 29 September. 

Malaikat adalah bukti cinta kasih Allah kepada seluruh umat-Nya. Allah tak akan membiarkan satupun umat-nya hilang, sehingga ia menugaskan para malaikat-Nya mendampingi hidup umat-Nya. 

Para Malaikat Agung adalah pemimpin, penghulu para malaikat. Tradisi Suci hanya memperkenalkan 3 nama dari ketujuh penghulu para malaikat Tuhan, yaitu Mikhael, Gabriel, dan Rafael. 

Tradisi Suci ini sekaligus ingin memperlihatkan kepada kita betapa agungnya karya ciptaan Tuhan Semesta Alam. Keagungan-Nya begitu dahsyat dan luar biasa, bahkan melampaui batas kemampuan nalar manusia. Dalam kebiasaan masyarakat tertentu, ada usaha menambahkan nama-nama bagi ketujuh penghulu malaikat itu dengan cara tradisi mereka sendiri. 

Suatu sore yang dingin karena hujan mengguyur Jakarta
hari selasa, tanggal terakhir bulan Maret 2009,
saat devosi kepada Malaikat Agung Santo Mikhael biasa diungkapkan

Dari kehangatan OBOR,
Agustinus Surianto Himawan, Pr

Sumber:
1. Orang Kudus Sepanjang Tahun (Penerbit OBOR, Jakarta)
2. Doa & Ibadat Harian Pekerja (Penerbit OBOR, Jakarta)
3. Yesaya (situs rohani melalui internet)
4. Leaflet 3 Malaikat Agung (Toko Rohani OBOR)

Patung Para Malaikat Agung Mikhael, Gabriel dan Rafael seperti pada gambar diatas bisa di dapat di Toko Buku Obor Jl Gunung Sahari Raya 91 telp : 021 – 4222396 (hunting) Jakarta – klik Facebook


About these ads