Kongregasi Klerus tentang Tahun Imam

19 June 2009 – 19 June 2010

 

Para imam yang terkasih,

Tahun Imam, yang diumumkan oleh Paus Benediktus XVI untuk merayakan peringatan 150 tahun kematian Pastor yang saleh dari Ars, St. Yohanes Maria Vianney, telah semakin dekat. Perayaan pembukaan Tahun Imam ini akan diselenggarakan dan dipimpin oleh Bapa Suci pada 19 Juni yang akan datang, bertepatan dengan Pesta Hati Kudus dan Hari Doa Sedunia demi Kesucian Hidup Para Imam. Pengumuman Tahun Imam ini telah mendapat sambutan yang hangat, khususnya dari para imam sendiri. Setiap imam ingin menjalani hidup mereka dengan penuh komitmen, ketulusan dan semangat sehingga tahun itu pantas dirayakan di seluruh paroki dan setiap komunitas local – di mana semua umat Katolik dapat berpartisipasi dengan penuh kegembiraan. Umat sangat mencintai para imamnya dan ingin melihat mereka bahagia, hidup suci dan penuh kegembiraan dalam karya pelayanan mereka setiap hari.

Tahun khusus bagi para imam ini amat penting dan bermanfaat di mana Gereja berbicara kepada para imam, secara khusus, dan juga kepada semua umat beriman  serta masyarakat luas melalui media masa bahwa Gereja berbangga dengan para imamnya, mencintai mereka, menghormati mereka, mengagumi cara hidup dan bahwa Gereja mengakui dengan penuh syukur karya pastoral dan kesaksian  hidup para imamnya. Sungguh, para imam memiliki arti penting bukan hanya karena apa yang mereka kerjakan tetapi juga karena keberadaan mereka. Dengan perasaan sedih harus diakui bahwa pada masa ini beberapa imam terlibat dalam kasus-kasus yang tidak sepantasnya. Adalah penting untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus-kasus semacam itu, melalui proses hukum dan memberikan hukuman yang sesuai dengan kesalahan mereka.  Akan tetapi, haruslah tetap diingat bahwa kasus-kasus ini terjadi pada  segelintir kecil saja dari para imam. Sebagian besar para imam adalah orang-orang memiliki integritas pribadi, yang mengabdikan hidup mereka pada pelayanan suci, manusia pendoa dan semangat kasih pastoral, yang mencurahkan seluruh diri mereka untuk menjalani  tugas panggilan dan misi mereka, sering kali dengan penuh pengorbanan  diri, tetapi selalu atas dasar cinta sejati kepada  Yesus

Kristus, Gereja dan umat, dalam solidaritas dengan orang miskin dan menderita. Dengan alasan itulah, Gereja merasa bangga dengan para imamnya di mana pun mereka berada.

Semoga Tahun Imam ini merupakan penghargaan yang  mendalam terhadap panggilan hidup imamat, teologi imamat Katolik , dan terhadap arti penting panggilan dan misi para imam dalam gereja dan masyarakat. Penghargaan ini akan menuntut banyak waktu untuk melakukan kajian dan studi,

rekoleksi, latihan-latihan spiritual yang merefleksikan tentang keimaman, konferensi dan seminari-seminar teologis di fakultas-fakultas  gerejani, riset ilmiah serta publikasinya.

Bapa Suci, yang mengumumkan Tahun Imam ini dalam sambutannya pada 16 Maret 2009, di hadapan Kongregasi Klerus selama Sidang Umum, mengatakan bahwa tahun khusus ini dimaksudkan untuk “mendorong para imam dalam menggapai kesempurnaan rohani, sebagai landasan keberhasilan pelayanan mereka.” Dengan alasan inilah, perlu diadakan waktu khusus selama setahun untuk berdoa yang dilakukan oleh para imam sendiri, bersama para imam dan bagi para imam, waktu setahun untuk pembaruan spiritualitas keimaman dan spiritualitas setiap imam. Perayaan Ekaristi, dalam perspektif ini, merupakan  jantung  dari spiritualitas keimaman. Adorasi Ekaristi demi kesucian hidup para imam dan

keibuan rohani para biarawati, hidup bakti dan wanita awam kepada para imam, seperti sudah diusulkan beberapa waktu yang lalu oleh Kongregasi Klerus, dapat dikembangkan lebih lanjut dan akan menghasilkan buah kekudusan.

Semoga pada tahun ini, keadaan nyata dan kebutuhan material para imam diperhatikan, karena para imam, kadang-kadang hidup dalam situasi yang sangat miskin dan sulit.

Semoga perayaan Tahun Imam ini, menjadi kesempatan bagi para biarawan-biarawati dan masyarakat umum, mengajak umat – komunitas Katolik lokal – untuk berdoa, merenungkan, dan secara sepantasnya menghormati para imamnya.  Dalam komunitas gerejani, suatu perayaan merupakan peristiwa yang

sangat menyentuh hati yang mengungkapkan dan memberikan kegembiraan Kristiani, suatu kegembiraan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah mencintai kita dan merayakan bersama kita. Semoga tahun ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan persekutuan dan persaudaraan di antara para imam dan umat yang dipercayakan kepada penggembalaan mereka.

Banyak hal dan prakarsa lain dapat dilakukan untuk memperkaya perayaan Tahun Imam ini, tetapi di sini diharapkan Gereja-gereja lokal melakukannya dengan cara-cara yang menarik dan khas menurut cara mereka sendiri. Karena itu, sejak awal diharapkan bahwa setiap Keuskupan dan Paroki serta komunitas lokal menyiapkan  suatu rencana kerja yang efektif untuk perayaan tahun khusus ini. Jelas, sangatlah penting untuk memulai Tahun ini dengan satu kegiatan yang menghargai para Imam.  Gereja-gerja local diajak pada 19 Juni nanti, pada hari yang sama ketika Bapa Suci membuka perayaan Tahun Imam di Roma, untuk turut serta juga mengawali Tahun Khusus. Semoga juga ada orang yang bisa datang ke Roma untuk mengikuti perayaan pembukaan Tahun khusus ini, untuk menyatakan partisipasi mereka dalam peristiwa yang berbahagia ini.

Allah senantiasa memberkati upaya ini dengan cinta yang besar dan Santa Perawan Maria, Ratu para imam, berdoa buat saudara sekalian, para imam yang terkasih.

 

Claudio Cardinal Hummes

 

Uskup Agung Emeritus Sao Paolo

Prefek Kongregasi Klerus

 

dikutip dari : email Mgr Pujasumarta – millis KAS

foto : OSC Indonesia


Dalam Syahadat Para Rasul kita meyakini bahwa Tuhan Allah menciptakan Langit dan Bumi, yang masing-masing dilengkapi dengan segala isinya.

Langit atau Surga dihuni oleh Tuhan Allah beserta pada malaikat-Nya. Mereka adalah para sahabat Tuhan Allah. Para pemimpinnya disebut sebagai Malaikat Agung, di antaranya ada Mikhael, Gabariel, dan Rafael. Selain itu, konon, masih ada satu malaikat yang berwajah tampan, elok, dan gagah perkasa, yang oleh teman-temannya diberi nama Lucifer.

Suatu ketika, kesombongan menghinggapi Lucifer, yang merasa ingin menyamai Tuhan Allah, penciptanya. Berbagai usaha dilakukannya untuk mewujudkan keinginan dan ambisinya itu. Ia membangun kekuatan untuk melawan Tuhan Allahnya sendiri dengan kekuatan yang tidak kepalang tanggung. Lucifer bersama para malaikat pengikutnya melakukan pemberontakan besar-besaran.

Tuhan Allah memanggil Malaikat Agung Mikhael dan memerintahkannya agar membentuk pasukan balatentara surga untuk menghadapi para malaikat pemberontak yang dipimpin oleh Lucifer. Dalam pertempuran besar di Surga itu, Lucifer berhasil dikalahkan oleh balatentara surga yang dipimpin oleh Malaikat Mikhael. Lucifer dan para pengikutnya diusir dan dibuang ke bawah, ke sebuah tempat yang disebut neraka.

Pintu Surga tertutup bagi mereka untuk selama-lamanya. Kemenangan besar diraih oleh Balatentara Surga. Namun, apakah Lucifer menyerah karena kekalahan ini?

Lucifer adalah personifikasi kuasa kegelapan, kuasa jahat, iblis, meskipun pada awalnya mengandung makna positif. Dalam bahasa latin, lux-lucis berarti ‘cahaya’, dan ferre bermakna ‘membawa’. Lucifer awalnya adalah si Pembaca Cahaya, atau dikenal dengan istilah Putera Fajar, Bintang Fajar. 

Konsep tentang Lucifer ini mengalami pengayaan makna, terutama dalam karya-karya sastra Dante, penyair Italia yang hidup pada abad pertengahan. Lucifer menjadi setan, iblis, kuasa jahat dan kegelapan. Dalam alkitab versi King James, nama Lucifer dimunculkan dalam Yesaya 14:12 untuk menyebut ‘setan’, si Putera Fajar yang jatuh dari langit (surga) dan dicampakkan ke bumi.

Kita kembali ke pertanyaan, ‘menyerahkah Lucifer karena kekalahan dalam peperangan di Surga itu?’ Dalam Injil diperlihatkan bagaimana Lucifer tak pernah menyerah. Setelah gagal mencobai Yesus di padang gurun, ia mundur…dan menunggu waktu yang baik (Lk 4:13). Lucifer, si malaikat agung yang telah tercampakkan itu, beserta para pengikutnya tak pernah berhenti membujuk manusia agar bergabung bersamanya, memperbesar kekuasaan kegelapannya. 

MALAIKAT MIKHAEL

Mikhael adalah Panglima Perang Balatentara Surgawi. Namanya berarti “Siapa dapat menyamai Tuhan?”, yang mengingatkan kita pada pertempuran dahsyat balatentara surgawi melawan pemberontakan Lucifer, si raja iblis, yang berambisi ingin menyamai Tuhan Allah.

Malaikat Mikhael beberapa kali ditampilkan dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Kitab Daniel bab 10 dikisahkan bagaimana Mikhael menenangkan hati Daniel setelah Daniel memperoleh suatu penglihatan. Mikhael berjanji untuk menjadi penolongnya dalam segala hal. Dalam Kitab Daniel bab 12, Mikhael disebut sebagai “pemimpin besar yang akan mendampingi anak-anak bangsa pilihan Tuhan.” Dalam Kitab Yudas ayat 9 diceriterakan bagaimana Mikhael bertengkar dengan iblis mengenai mayat Musa. 

Dalam Kitab Wahyu bab 12, Yohanes menggambarkan pertempuran besar di surga di mana Mikhael berhasil menghalau para malaikat yang memberontak dari surga. Peranan Malaikat Mikhael dalam Kitab Wahyu ini mungkin saja menjadi sumber inspirasi kisah pertempuran di Surga antara Lucifer dan kawan-kawannya melawan balatentara surga lainnya yang dipimpin oleh Mikhael.

Gereja memohon pertolongan Santo Mikhael bagi orang-orang yang akan menghadapi ajalnya, untuk mengantar jiwa-jiwa dari api penyucian menuju Surga.

Malaikat Mikhael juga menjadi pembela kaum beriman dalam menghadapi serangan musuh-musuhnya, menjadi pembela Gereja dalam penganiayaan, godaan, dan perpecahan. Kaum beriman mengharapkan kekuatan melalui pendampingan dari Malaikat Agung Santo Mikhael melalui doa:

“Santo Mikhael, Malaikat Agung,
Belalah kami pada hari pertempuran
Jadilah pelindung kami melawan kejahatan dan jebakan si jahat.
Dengan rendah hati kami mohon kiranya Allah menghardiknya.

Dan semoga engkau, hai Panglima Balatentara Surga,
dengan kuasa Allah, mencampakkan ke dalam neraka
setan dan semua roh jahat yang berkeliaran di dunia
hendak membinasakan jiwa-jiwa. Amin.

(lihat Doa & Ibadat Harian Pekerja, Tim Penerbit OBOR, didoakan setiap hari Selasa)

MALAIKAT GABRIEL

Gabriel, yang lazim disebut juga ‘Jibrail’ berarti ‘Kekuatan Allah.’ Dalam tradisi Kristen malaikat agung ini dikenal sebagai ‘pembawa kabar gembira’ dari Tuhan kepada manusia. Peranannya sebagai pelayan dan utusan Allah sudah dikenal umat Allah semenjak masa Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Lama, peranan Malaikat Gabriel diperlihatkan oleh Nabi Daniel (Dan 8: 16-18; 9: 21-23). Sedangkan Perjanjian Baru menampilkan Gabriel sebagai “pembawa kabar gembira” dari Allah kepada Zakaria (Luk 1: 11-20) dan memuncak dalam kisah kunjungannya kepada Bunda Maria (Luk 1: 26-38).

Melalui penggambaran dalam Alkitab, kita diingatkan tentang peran penting Malaikat Agung Santo Gabriel ini sebagai utusan Allah yang menyampaikan warta keselamatan dari Allah bagi umat-Nya. Ia memberi penerangan Ilahi kepada manusia, sehingga terbukalah budi dan hati manusia untuk memahami dan meyakini kehendak Allah.

Peranannya yang begitu istimewa untuk menjadi pewarta ”kabar baik” telah membuat Gereja menghormatinya sebagai pelindung karyawan media massa, yang pestanya dirayakan setiap tanggal 29 September dalam Pesta Para Malaikat Agung.

MALAIKAT RAFAEL

Rafael berarti “Tuhan menyembuhkan”. Namanya banyak disebut dalam Kitab Tobit bab 4-12, di mana dikisahkan Rafael menyamar sebagai manusia untuk menemani seorang pemuda bernama Tobia dalam perjalanannya ke negeri Media. Malaikat Rafael juga memberikan obat kepada kepada Tobia guna menyembuhkan mata Tobit, ayahnya yang buta, serta membebaskan Sara, puteri Raguel, dari gangguan roh jahat.

Gereja memperkenalkan Malaikat Rafael karena mengikuti tradisi suci dalam Kitab Tobit, yang memperlihatkan bagaimana Rafael memperkenalkan dirinya sebagai Malaikat Tuhan, “Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaikat yang melayani di hadapan Tuhan yang mulia… (Tob 12:15-22)”.

PENUTUP 

Pesta Malaikat Agung St. Mikhael, St. Gabriel dan St. Rafael dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 29 September. 

Malaikat adalah bukti cinta kasih Allah kepada seluruh umat-Nya. Allah tak akan membiarkan satupun umat-nya hilang, sehingga ia menugaskan para malaikat-Nya mendampingi hidup umat-Nya. 

Para Malaikat Agung adalah pemimpin, penghulu para malaikat. Tradisi Suci hanya memperkenalkan 3 nama dari ketujuh penghulu para malaikat Tuhan, yaitu Mikhael, Gabriel, dan Rafael. 

Tradisi Suci ini sekaligus ingin memperlihatkan kepada kita betapa agungnya karya ciptaan Tuhan Semesta Alam. Keagungan-Nya begitu dahsyat dan luar biasa, bahkan melampaui batas kemampuan nalar manusia. Dalam kebiasaan masyarakat tertentu, ada usaha menambahkan nama-nama bagi ketujuh penghulu malaikat itu dengan cara tradisi mereka sendiri. 

Suatu sore yang dingin karena hujan mengguyur Jakarta
hari selasa, tanggal terakhir bulan Maret 2009,
saat devosi kepada Malaikat Agung Santo Mikhael biasa diungkapkan

Dari kehangatan OBOR,
Agustinus Surianto Himawan, Pr

Sumber:
1. Orang Kudus Sepanjang Tahun (Penerbit OBOR, Jakarta)
2. Doa & Ibadat Harian Pekerja (Penerbit OBOR, Jakarta)
3. Yesaya (situs rohani melalui internet)
4. Leaflet 3 Malaikat Agung (Toko Rohani OBOR)

Patung Para Malaikat Agung Mikhael, Gabriel dan Rafael seperti pada gambar diatas bisa di dapat di Toko Buku Obor Jl Gunung Sahari Raya 91 telp : 021 – 4222396 (hunting) Jakarta – klik Facebook


 

1. Lagu Pembuka ♥ Indonesia Raya (berdiri)

2 . Tanda Salib dan Salam

P  Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U Amin.

P Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Putera-Nya Yesus Kristus, besertamu.

U Dan sertamu juga.

 

3. Pengantar

Dalam hidup berbangsa dan bernegara orang Katolik adalah war-ganegara 100 %. Sebagai warganegara, ia harus berbakti kepada bangsa dan negara Indonesia. Umat Katolik bertanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraan sesama warga negara di segala bidang. Salah satu wujud partisipasi adalah dengan meng-gunakan hak pilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.

Yesus, Tuhan kita, memberi teladan dan mengajarkan bagai-mana menghormati para pimpinan negara dan membayar pajak kepada penguasa negara. Tentu saja Yesus juga mengajak kita untuk memberi apa yang menjadi hak Allah. Bagaimana kita me-wujudkan tanggung jawab pada Allah sekaligus mewujudkan tanggung jawab pada bangsa dan negara ini? Ini akan kita bahas dan renungkan dalam pertemuan ke-4 ini.

4. Pernyataan Tobat

P Marilah kita memeriksa batin kita sejenak. (hening sejenak). Saya mengaku….

U kepada Allah yang mahakuasa dan kepada Saudara sekalian,

bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan

perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya

sungguh berdosa. Oleh sebab itu, saya mohon kepada Santa

Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan

kepada Saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah,

Tuhan Kita. Amin.

P Semoga Tuhan yang berbelaskasih mengampuni kita, membebaskan kita dari dosa dan menganugerahkan hati yang bersih.

U Amin.

5. Doa Pembuka (bersama-sama)

Allah Bapa penyayang kehidupan, kami bersyukur boleh mendiami tanah air Indonesia dengan segala keragaman dan kekayaan alamnya. Kami bersyukur bahwa Engkau menyertai perjalanan bangsa dan negara kami. Bantulah kami agar dari hari ke hari kami semakin bersatu hati mewujudkan kesejahteraan umum. Terangilah hati dan budi kami agar tidak berpandangan sempit memperjuangkan kepentingan kelompok dan golongan sendiri. Demi Kristus, yang mengasihi semua orang dan telah wafat menebus dosa manusia, dalam persekutuan Roh Kudus, hidup kini dan sepanjang masa. Amin.

6. Lagu Pengantar Bacaan ♥ Padamu Negeri

7. Bacaan Kitab Suci: Mrk 12: 13-17

(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)

Renungan singkat

Negara dan bangsa adalah wadah pemersatu berbagai keragaman dan latar belakang warga negaranya. Negara dan bangsa ada untuk melindungi dan menciptakan kedaulatan setiap manusia. Dalam hal ini negara dan bangsa adalah baik sebagai dikehendaki oleh Tuhan. Sebagai warga negara setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Siapa yang memiliki lebih, hendaknya memberi lebih, agar tercipta keadilan dan kesejahteraan semua warga.

Yesus pun mengajarkan hal yang sama bahwa setiap orang punya kewajiban untuk membayar pajak kepada penguasa. Tujuan pajak, pada akhirnya, demi membangun negara dan kepentingan bersama. Namun, Yesus juga menekankan perlunya kewajiban sebagai warga Kerajaan Allah. Dengan demikian, kewajiban yang satu tidak meniadakan kewajiban yang lain. Kedua-duanya mesti dipenuhi.

Apa kewajiban kita terhadap Allah? Rasanya bukan sesuatu yang sangat rumit. Sebagaimana Allah telah memberikan kepada manusia dengan gratis (gratia = rahmat), maka manusia berkewajiban untuk memberikan dengan cuma-cuma pula. Oleh karena itu, manusia diundang untuk bermurah hati, sama seperti Bapa murah hati adanya. Kewajiban yang datang dari Allah rasanya demi kepentingan manusia juga, misalnya: memuji dan memuliakan Allah lewat doa dan ibadat. Contoh lain adalah memberikan derma kepada fakir miskin dan kaum terlantar, sebagaimana Tuhan bersabda: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:40)”. Sepuluh perintah Allah diberikan juga bukan demi kepentingan Allah, tetapi agar manusia selamat. Maka, tunggu apa lagi? Mari kita lakukan kewajiban kita kepada Tuhan dan kepada bangsa dan negara kita.

8. Doa Umat

P Marilah kita menyatukan hati kita untuk berdoa bagi bangsa dan negara:

P Bapa yang penuh kasih, utuslah Roh Kudus untuk menyatukan berbagai macam perbedaan dan keragaman yang ada pada bangsa dan negara kami.

U Semoga di negara dan bangsa kami tetap tercipta perdamaian dan kerukunan sehingga kami semakin maju dan berkembang.

P Bapa berkatilah dan jagailah para pemimpin bangsa dan negara kami agar mereka bertindak jujur dan adil.

U Berilah hati yang bijaksana sehingga mereka mau berkorban dan mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan bagi semua.

P Bapa, Putera-Mu mengajak kami untuk bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negara kami dengan ikut membayar pajak kepada pemerintah.

U Ajarilah kami untuk menghargai setiap usaha dan niat baik pemerintah. Doronglah kami untuk mau terlibat dalam usaha menciptakan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan sosial.

P Bapa, sebentar lagi bangsa kami akan menyelenggarakan Pemilihan Umum. Berkatilah seluruh proses pemilihan agar dapat berjalan dengan baik dan lancar.

U Semoga kami dan semua yang terlibat dalam Pemilu dapat bekerja dengan bersih, jujur dan adil, sehingga terpilihlah wakil-wakil yang dapat menyuarakan kebaikan dan bekerja demi kepentingan bersama.

P Marilah kita panjatkan doa dan permohonan kita …. Marilah kita mohon:

U Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

P Dengarkanlah ya Tuhan segala doa yang kami sampaikan dengan rendah hati kepada-Mu. Perkenankanlah kami menggabungkan-nya dengan doa Kristus Putera-Mu. Bapa kami ….

9. Doa Penutup (terinpirasi dari Doa untuk Tanah Air, PS. 194 )

Ya Bapa, kami bersyukur atas tanah air kami yang luas dengan isinya yang beraneka ragam; lautan dengan ribuan pulau, gunung dan dataran, hutan dan belantara; semuanya menyemarakkan tanah air kami.

Kami bersyukur atas ratusan suku dan aneka budaya serta bahasa yang Kau himpun menjadi satu bangsa dan satu bahasa.

Kami mohon berkat-Mu bagi semua yang mendiami tanah air ini. Semoga kami semua berusaha memelihara dan memajukannya. Bebaskanlah tanah air kami dari bahaya bencana alam, lumpur, longsor, tsunami, kelaparan dan wabah penyakit.

Semoga pemimpin bangsa kami tekun membangun tanah air ini demi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh bangsa bukan untuk kepentingan golongan tertentu saja. Bantulah mereka mewujudkan tanah air yang adil, makmur, aman, damai dan sejahtera bukan menciptakan „Tsunami bangsa‟ sehingga rakyat semakin menderita. Semua ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan sertamu.

U Dan sertamu juga.

P Semoga Allah Bapa yang mahakasih mengertai dan memberkati

kita dalam setiap usaha dan niat baik kita.  Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U Amin.

P Ibadat dan pertemuan kita sudah selesai.

U Syukur kepada Allah.

P Marilah kita bertanggung jawab sebagai warga negara dengan memajukan kesejahteraan bersama dan menggunakan hak pilih kita.

U Amin.

12. Lagu Penutup  Ibu Pertiwi

 

 

 

 

1. Lagu Pembukaan

2. Tanda Salib dan Salam

P  Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U Amin.

P Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus besertamu.

U Dan sertamu juga.

 

3. Pengantar

Gereja hadir di tengah masyarakat yang majemuk dan situasi nyata masyarakat yang lemah, miskin dan menderita. Gereja sebagai paguyuban murid-murid Kristus dipanggil dan diutus un-tuk mewujudkan kesejahteraan umum, membebaskan orang-orang yang tertindas oleh ketidakadilan, memberantas kemiskin-an dan memelihara lingkungan hidup.

Yesus mengajak para murid untuk berbelaskasih dan melakukan tindakan nyata membantu orang yang lapar dan haus akan kasih Tuhan. Sebagaimana para murid menerima kasih dan pemeli-haraan Tuhan dengan cuma-cuma, maka kita diundang untuk memberi dengan cuma-cuma pula. Pertemuan ketiga ini menga-jak kita untuk mensyukuri relasi dengan Kristus sekaligus untuk menanggapi ajakan Kristus bertanggung jawab terhadap nasib saudara-saudari kita yang berkekurangan.

4. Pernyataan Tobat ( TPE hal 21 )

P Marilah kita hening sejenak untuk memeriksa batin, khususnya sikap kita terhadap masyarakat pada umumnya. (hening sejenak)

P Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami supaya berbuat yang benar. Tuhan, kasihanilah kami.

U Tuhan, kasihanilah kami.

P Engkau menanggung dosa kami supaya kami bebas dari kekuatan dosa dan dapat hidup menurut kehendak Allah. Kristus, kasihanilah kami.

U Kristus, kasihanilah kami.

P Engkau menderita bagi kami supaya kami selamat dan mengikuti jejakMu. Tuhan, kasihanilah kami.

U Tuhan, kasihanilah kami.

P Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita mengampuni dosa kita, mengantar kita kehidupan yang kekal.

U Amin

5. Doa Pembuka (bersama-sama)

Allah Bapa, Pencipta dan Penyayang kehidupan, Engkau mengetahui apa yang sedang terjadi pada masyarakat kami. Begitu banyak bencana dan krisis yang menimpa, entah karena bencana alam maupun karena buatan tangan manusia sendiri. Semoga masyarakat kami mau bertanggung jawab atas bencana yang terjadi dan kami tergerak untuk bersatu mengatasinya. Demi Kristus, Putera-Mu, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

6. Lagu Pengantar Bacaan

7. Bacaan Kitab Suci : Mat 14:13-21

(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)

Renungan singkat

Makan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia selain tempat tinggal dan pakaian. Di antara kita masih banyak yang bertanya: besok makan apa? Artinya: banyak saudara-saudari kita yang belum mendapatkan makanan. Tidak jarang kekurangan makan, bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena tidak ada keadilan, yaitu: keadilan distributif, pembagian makanan yang tidak merata. Bumi dan kekayaan alam dipercayakan kepada manusia, untuk kesejahteraan manusia, namun sayangnya hanya dikuasai sebagian kecil saja manusia, sehingga banyak orang tidak mendapatkan makanan.

Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam, sangat mengasihi manusia. Ia memberikan makanan dan rejeki. Ingat saja bagaimana Allah menyediakan makanan bagi Umat-Nya ketika mereka kelaparan di padang gurun. Hati Tuhan selalu berbelaskasihan kepada semua orang, terlebih mereka yang lemah, sakit dan kelaparan. Yesus mengundang dan melibatkan para murid-Nya untuk memberikan makanan dan kesembuhan bagi semua orang. Ia mengajak Para murid-Nya untuk bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup sesamanya. Mereka diminta percaya bahwa bersama Dia tidak ada orang yang berkekurangan.

Dengan demikian para murid diajak untuk “berpolitik”, bukan dalam arti berpolitik praktis, tetapi dalam arti memperjuangan kesejahteraan semua orang. Para murid diundang untuk tidak memperkaya diri, tetapi bekerja dengan jujur dan tekun, serta memberikan apa yang menjadi hak orang lain untuk makan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan. Kita diharapkan bertanggung jawab terhadap hidup sesama, agar saudara kita dapat memuji dan memuliakan Tuhan.

Bagaimana caranya? para murid diajak untuk bersyukur atas berapa pun yang mereka miliki. Mereka diminta untuk berani menyerahkan segala milik dan jerih payah mereka kepada Tuhan. Para murid hendaknya beriman kepada-Nya. Selain itu, kita dapat membayangkan juga bahwa kalau setiap orang menyumbang sedikit dari apa yang mereka miliki, maka kumpulan itu bisa dibagikan kepada mereka yang tidak memiliki sama sekali. Inilah kekuatan Ekaristi: bersyukur dan percaya kepada Tuhan dan memberi sebagian dari apa yang kita miliki.

8. Doa Umat

P Marilah kita merendahkan diri di hadapan Allah dan memanjatkan doa dan permohonan kita:

P Yesus, Engkau mengajarkan kami, untuk peka dan peduli akan kebutuhan sesama kami yang terlantar dengan saling berbagi sebagai rasa ungkapan bertanggung jawab satu terhadap yang lain.

U Mampukanlah kami, ya Tuhan, untuk percaya bahwa Engkau sungguh berada di tengah-tengah kami. Buatlah hati kami berbelaskasih seperti Engkau.

P Ya Bapa, Engkau memanggil dan mengutus Gereja-Mu membawa warta pembebasan bagi yang miskin, yang tertindas, yang lapar, dan membawa pendamaian dan pengampunan terhadap pelaku tindak kekerasan.

U Kuatkanlah tangan kami untuk bekerja demi kebaikan semua orang, mendahulukan mereka yang miskin dan lemah. Roh Kudus tinggallah di tengah-tengah kami selalu agar kami menyadari tanggung jawab kami pada masyarakat luas.

P Tuhan, kami bersyukur atas rejeki yang Kau berikan pada kami, yang Kau sediakan melalui orang-orang yang berjasa kepada kami. Ingatkan kami masih banyak mereka yang tidak mendapatkan rejeki.

U Ajarilah kami untuk menghargai segala pemberianmu dengan bijaksana, semoga kami mau dan mampu menghargai setiap jerih payah saudara kami yang menyediakannya.

P Marilah kita memanjatkan doa dan permohonan kita …. Marilah kita mohon:

U Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Demikianlah, ya Bapa, doa dan permohonan yang sempat terucap lewat kata-kata kami. Perkenankanlah kami menggabungkannya dengan doa yang diajarkan Putera-Mu sendiri. Bapa kami ….

9. Doa Penutup (bersama-sama)

Tuhan Yesus, kami bersyukur bahwa Engkau selalu memberi kami rejeki dan mengundang kami untuk ambil bagian dalam perjamuan-Mu. Semoga berkat persatuan dengan-Mu kami tergerak untuk membantu mereka yang lapar, miskin dan tertindas. Semoga semangat solidaritas untuk berbagi senantiasa hadir di tengah-tengah kami sebagaimana Engkau selalu ingin tinggal pada kami. Karena Engkaulah Tuhan yang bangkit yang membebaskan kami dari dosa dan kelemahan kami. Amin.

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan sertamu.

U Dan sertamu juga.

P Berkat Allah yang mahakuasa meneguhkan persaudaraan dan solidaritas kita pada masyarakat yang membutuhkan.  Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U Amin.

P Ibadat kita sudah selesai

U Syukur kepada Allah

P Marilah pergi kita diutus bertanggung jawab pada masyarakat.

U Amin.

12. Lagu penutup

 

 

1. Lagu Pembukaan

2. Tanda Salib dan salam

P  Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U Amin.

P Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus besertamu.

U Dan sertamu juga.

 

3. Pengantar

Lingkungan sebagai komunitas basis menjadi fokus pember-dayaan Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Secara khusus, komu-nitas basis diberdayakan dengan strategi gembala yang baik. Itu berarti: setiap anggota diajak untuk mencari dan menemukan yang hilang dalam komunitas tersebut dan mengajak setiap ang-gota untuk terlibat aktif. Pertemuan kedua, mengajak kita un-tuk menyadari tanggung jawab kita dalam membangun komuni-tas basis lingkungan.

Paulus dalam suratnya memberi nasehat untuk bertanggung jawab terhadap saudara-saudara seiman. Tanggung jawab terse-but diwujudkan dalam berbagai macam tingkat, mulai dari diri sendiri hingga tanggung jawab pada komunitas. Semoga kita makin bertanggung jawab terhadap saudara-saudara kita seiman dan mengembangkan karya pelayanan dan persekutuan kita.

4. Pernyataan Tobat

P Marilah kita hening sejenak memeriksa batin kita bagaimana sikap kita terhadap saudara-saudari kita di lingkungan. (hening sejenak) Marilah menyesali dan mengakui segala kelemahan kita.

U Allah yang maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan maha baik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang mahamurah, ampunilah aku, orang ber-dosa. Amin.

5. Doa Pembuka (bersama-sama)

Ya Tuhan Allah, Bapa kami, Engkau menghendaki kami berkarya untuk dunia dengan menyebarkan cinta kasih, pertama-tama di antara saudara seiman, membangun iman dan persekutuan. Ban-tulah kami masing-masing menemukan peran dan tanggung jawab kami dalam pelayanan Gerejani sesuai dengan panggilan hidup kami. Bukalah hati kami untuk selalu dibimbing dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Demi Kristus, Tuhan kami yang hidup kini dan sepanjang masa. Amin.

6 Lagu Pengantar Bacaan

7. Bacaan Kitab Suci : Gal 6:1-10

(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)

Renungan singkat

Siapa biasa ikut dalam pertemuan atau ibadat di lingkungan? Rasanya tidak banyak, atau orang itu-itu lagi. Mengapa sebagian tidak ikut dalam pertemuan lingkungan? Alasan dan jawabannya bisa bermacam-macam. Ada yang merasa tidak berguna; ada yang sakit hati; ada yang sudah aktif di tempat lain; merasa terbebani pekerjaan; sudah punya komunitas lain; sering berpindah-pindah; atau tidak peduli. Menarik bila menyimak surat Paulus ini karena mengajak untuk tetap memperhatikan dan bertanggung jawab terhadap saudara-saudari seiman.

Tanggungjawab itu mesti diwujudkan dalam tingkat-tingkat, mulai dari diri sendiri: “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri!” (ay. 4). Jemaat diharapkan juga “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu” (ay. 2). Rasanya beban yang dimaksud adalah beban moril dan materiil. Kepada mereka yang sudah maju dan berkembang dalam hidup rohani, diharapkan “memimpin orang yang lemah ke jalan yang benar” (bdk. ay. 1). Akhirnya, Paulus memberi nasihat agar kita tidak pernah jemu-jemu berbuat baik (bdk. ay.9).

Bagi siapakah nasihat ini pada akhirnya? Sebenarnya bagi semua orang yang percaya kepada Kristus, namun nyatanya ada saudara kita yang tidak mau peduli. Oleh karena itu, kita yang peduli dan berkesempatan mendengarkan Sabda Allah diharapkan me-mulai saja tugas “menabur benih-benih kebaikan”. Sebab kita percaya bahwa benih itu memiliki daya kekuatannya sendiri un-tuk bertumbuh dan berkembang.

8. Doa Umat

P Marilah kita berdoa kepada Bapa yang telah mengutus Putera-Nya agar kita bersatu dan bersaudara saling meneguhkan iman dan pelayanan kita.

P Ya Bapa, tidak mudah bagi kami untuk membangun persaudaraan dan bertumbuh di dalam iman. Kami menyadari masih banyak saudara-saudara kami yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.

U Utuslah Roh Kudus untuk memberikan semangat kepada kami bila kami melalaikan tanggung jawab kami membina persaudaraan dan iman. Bukalah hati saudara-saudara kami untuk mau bersekutu dalam doa dan pelayanan.

P Putra-Mu Yesus mengajari kami tekun dan setia mencari dan menyelamatkan yang hilang dan tersesat, menjadi Gembala yang baik bagi siapa pun.

U Semoga kami mau dan mampu belajar daripada-Nya. Buanglah sikap acuh tak acuh serta masa bodoh dalam diri kami agar kami bersedia menjadi berkat bagi orang lain.

P Santo Paulus memberi nasehat agar kami saling membantu memikul beban kami dan membantu mereka yang lemah.

U Tuhan, semoga hati kami terbuka untuk melihat dan membantu mereka yang lemah miskin dan kekurangan. Teguhkan iman kami untuk berjumpa dengan Engkau dalam diri saudara-saudara kami.

P Kami berdoa bagi setiap orang yang telah berbuat baik dan selalu mengusahakan kebaikan bagi sesama. Berkatilah setiap usaha baik yang telah diusahakan agar semakin berbuah.

U Ajarilah kami untuk meneladan mereka dan bertekun dalam perbuatan baik kami. Jauhkanlah kami dari sikap menonjolkan diri sendiri, tetapi agar Engkau semakin dipuji dan dimulyakan.

P Marilah kita memanjatkan doa-doa dan permohonan kita …. Marilah kita mohon:

U Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

P Bersama Bunda Maria yang selalu menyertai kita. Marilah kita doakan tiga kali Salam Maria. Salam Maria …. (3X).

9. Doa Penutup (bersama-sama)

Bapa yang mahakasih, berkatilah semua pengurus lingkungan, wilayah dan paroki. Berilah mereka semangat kerasulan yang tinggi dan iman yang teguh untuk berkarya bersama dalam Gereja. Ajarilah kami selalu untuk saling bantu dan tolong menolong menanggung beban kami agar terciptalah paguyuban murid-murid-Mu yang hidup seturut kehendak-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan beserta kita.

U Sekarang dan selama-lamanya.

P Semoga persaudaraan kita dijagai dan diberkati oleh Allah yang maha kuasa: Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U Amin.

P Ibadat dan pertemuan kita sudah selesai.

U Syukur kepada Allah.

P Kita diutus menjadi gembala baik dalam lingkungan dan bertanggung jawab terhadap saudara-saudari kita.

U Amin.

12. Lagu Penutup

 

 

 

1. Lagu Pembukaan

2. Tanda Salib dan Salam

P  Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U Amin.

P Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan perseku tuan Roh Kudus selalu besertamu.

U Dan sertamu juga.

 

3. Pengantar

Setiap orang adalah bagian dari sebuah keluarga, entah keluarga inti, keluarga besar, maupun keluarga Allah. Sebagai anggota, masing-masing individu memiliki peran dan tanggung jawab agar hidup keluarga dapat berlangsung terus. Keluarga inti dipanggil untuk menjadi sakramen, tanda dan sarana keselamatan Allah, maka setiap anggota dipanggil untuk mewujudkan hal itu.

Santo Paulus menyadari peran dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga dalam menciptakan komunitas basis Gerejawi. Oleh karena itu, ia memberi nasehat bagi setiap orang sesuai dengan perannya. Dalam pertemuan pertama ini kita dia-jak menyadari peran dan tanggung jawab sebagai anggota ke-luarga. Semoga kita bisa belajar dari nasehat Santo Paulus.

4. Pernyataan Tobat

P Marilah kita hening sejenak untuk memeriksa batin kita agar layak dan pantas merayakan ibadat kita. (hening sejenak)

U Ya Allahku, Engkaulah yang harus kukasihi lebih dari segala se-suatu. Aku menyesal sungguh atas dosa-dosaku. Dengan sengaja aku berbuat salah dan tidak mau berbuat baik. Aku telah ber-dosa terhadap Engkau. Dengan pertolongan rahmatMu, aku ber-niat teguh untuk bertobat, dan tidak berdosa lagi. Berilah aku kekuatan untuk menghindari apa saja yang menjerumuskan aku kedalam dosa. Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini. Demi Yesus Kristus, Juruselamatku, yang telah menderita seng-sara dan wafat bagiku.

U Amin.

5. Doa Pembuka (bersama-sama)

Allah Bapa yang penuh kasih, Engkau mengumpulkan kami di sini supaya kami sehati dan sejiwa bersyukur sebagai anggota keluarga-Mu. Kami masing-masing memiliki keluarga yang Kau panggil untuk melanjutkan karya ciptaan-Mu. Bukalah hati kami untuk mendengarkan sabda-Mu dan melaksanakan-Nya. Berkatilah juga saudara-saudara kami yang belum dan berhalangan hadir dalam pertemuan ini. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

6. Lagu Pengantar Bacaan

7. Bacaan Kitab Suci : Tit 2 : 1-10

(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)

Renungan singkat

Siapa yang suka diberi nasihat? Kebanyakan orang tidak suka diberi nasehat, bukan? Kendati banyak orang tidak suka diberi nasehat, tidak berarti bahwa nasehat itu tidak penting dan tak berguna. Setiap orang memerlukan nasihat dari orang lain, terlebih dari mereka yang lebih tua dan bijaksana. Kitab Amsal menyebutkan: Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak (Ams 12:15). Bahkan, Kitab Amsal menganjurkan: Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan (Ams 19:20).

Memberi nasihat dan menjalankan nasihat tersebut merupakan Tradisi umat beriman. Paulus dalam suratnya mengajar Titus tentang nasihat-nasihat yang baik bagi jemaat, agar masing-masing orang menyadari peran dan tanggungjawabnya sebagai anggota keluarga. Bahkan, Paulus masih menambahkan peran dan tanggungjawab para hamba terhadap tuan mereka. Dengan menjalankan nasihat Paulus, maka keluarga diharapkan menjadi komunitas basis yang berpusat pada Sabda Allah dan menjalankan perintah-perintah Allah sedemikian sehingga komunitas itu memuliakan Allah.

Relevankah nasihat Paulus bagi kita? Apa arti nasihat tersebut? Kiranya nasihat tersebut tetap relevan dan penuh arti bagi kita. Orang tua-tua, suami dan isteri serta anak-anak memiliki peran dan tanggungjawab yang tidak kecil. Masing-masing hendaknya menjalankan hidupnya dan memberikan teladan hidup bagi yang lain. Itulah yang menjadi dasar panggilan dan perutusan sebagai murid-murid Tuhan. Seperti halnya Titus diminta menasihati jemaat, demikian pun kita diharapkan memberi nasihat dengan terlebih dahulu menghayatinya.

8. Doa Umat

P Marilah kita berdoa agar setiap anggota keluarga kita melaksanakan peran dan tanggung jawabnya:

P Bagi para lansia. Bantulah orang-orang tua agar mereka semakin hari berkembang dalam iman dan cinta, sehingga mereka berbahagia dan selalu bersyukur melihat anak cucu mereka.

U Ajarilah kami untuk selalu hormat dan berbakti kepada para orangtua, menjaga mereka di waktu sakit dan susah, sehingga mereka memberikan doa dan restunya bagi kami.

P Bagi para suami dan isteri. Semoga mereka bersatu saling mengasihi sehingga mereka dapat memberi teladan bagaimana berkorban dan menunaikan tanggungjawabnya kepada anak-anak dan keluarga.

U Semoga mereka diberi kerendahan hati dan kesabaran, terlebih bila begitu banyak masalah dan krisis melanda keluarga kami.

P Bagi anak-anak. Bantulah anak-anak kami agar mereka tekun dan setia menunaikan tugas belajar untuk masa depan. Jauhkanlah mereka dari godaan untuk mengambil jalan pintas dan bermalas-malasan.

U Semoga anak-anak kami dapat menghargai segala jerih payah orangtua mereka, sehingga mereka tekun berkarya dan berbuat baik demi keluarga dan masyarakat.

P Kita berdoa bagi mereka yang membutuhkan doa-doa kita …. Marilah kita mohon:

U Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

P Bapa yang mahakasih, semoga keluarga-keluarga Kristiani hidup dalam iman, harapan dan kasih, sehingga antara angkatan tua dan angkatan muda saling memahami, saling menghargai dan bergandengan tangan di setiap generasi. Marilah kita satukan doa dan permohonan kita dengan doa yang diajarkan Kristus sendiri. Bapa kami ….

9. Doa Penutup (Doa Tanggung Jawab, PS. 145)

Allah, sumber segala sesuatu, Engkau memberikan talenta untuk kami kembangkan. Engkau memuji para hamba yang baik dan setia, yang penuh tanggung jawab memperkem-bangkan talenta yang mereka terima.

Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap Yesus, supaya kami senantiasa ingat bahwa Ia begitu mengasihi kami, dan telah mempertaruhkan nyawa-Nya demi kami. Semoga kami selalu tanggung jawab terhadap panggilan kami sebagai orang beriman. Bantulah kami terus berusaha menjadi orang beriman yang dewasa dan sungguh terlibat dalam persekutuan jemaat, pewartaan, ibadat dan kesaksian dan pelayanan kepada masyarakat.

Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap diri kami sendiri, supaya kami tidak menyia-nyiakan karunia yang kau berikan kepada kami.

Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap orang tua, supaya kami selalu berusaha berbuat yang baik guna membalas kasih sayang dan pemeliharaan yang mereka lakukan terhadap kami.

Semoga kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap semua orang yang mendidik kami, supaya semua pelajaran hidup yang mereka berikan dengan tanggung jawab, kesabaran tidak kami sia-siakan.

Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap teman-teman kami, supaya kami tidak menghianati sikap persaudaraan mereka.

Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap masyarakat supaya kami selalu berusaha menyumbang lebih banyak daripada apa yang kami terima.

Ya Bapa, bantulah kami, supaya selalu mensyukuri apa yang sudah kami terima, dan mempergunakan dengan sebaik-baiknya apa saja yang ada pada kami demi Yesus, Tuhan kami.

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan beserta kita.

U Sekarang dan selama-lamanya.

P Semoga Allah memberkati setiap usaha kita dan mendukung setiap peran dan tanggung jawab kita.  Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U Amin.

P Ibadat kita sudah selesai.

U Syukur kepada Allah

P Marilah kita memberi teladan yang baik sebagai wujud tanggung jawab kita.

U Amin.

12. Lagu Penutup

 

 

bunda-sejati-1

( I Timotius 5:8 )

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya,” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga, saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang- wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu, merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.”

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun nak, bangun,” kataku. “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?” Ia tersenyum, “Aku menemukannya jatuh dari pohon. Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”

Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.” Si kecilku berkata, “Oh Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana bukan?

Jadi apakah Anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah Anda tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.

FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L) ove, (Y)ou

Tuhan Yesus Kristus Memberkati

 

Dikutip dari : www.facebook.com

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.